Indonesia | Chinese
ICATI
» ...
Beranda » Kegiatan » Menghadiri Malam Amal Penggalangan Dana Beasiswa

Menghadiri Malam Amal Penggalangan Dana Beasiswa
27 Februari - 1 Maret 2010

Sebulan yang lalu, ketua ICATI-Sumsel Pak Halim telah memberitahu kami di Palembang akan diadakan satu malam amal akbar yang bermaksud membantu murid murid yang kurang mampu. Di antaranya ada lulusan SMA yang akan dipandu untuk belajar Application Mandarin ke Taiwan, dan setelah lulus, dapat mengajar Mandarin secara professional di Sumatra Selatan. Malam dana ini dimotori oleh perkumpulan Tionghoa di Sumsel dan secara aktip di koordinasi oleh ICATI-Sumsel.

Pemerintah Taiwan yang diwakili Deputy Representative Mr. Li Zi Gang dan sekretarisnya Mr. Zhang Zhi Ping juga diundang dan hadir untuk memberi semangat kepada pesta ini. Warga Tionghoa di Sumsel sangat menaruh perhatian kepada budaya Tionghoa sejak dulu. Dan karenanya banyak murid keturunan Tionghoa yang belajar ke Taiwan.  Ini juga alasan kenapa ICATI-Sumsel dipercaya utuk mengkoordinasi malam dana ini. 

ICATI Pusat dipimpin ketua umum Ibu Rini Lestari serta anggota Johan Iskandar, Hengky Lau dan Lindawati menghadiri pesta ini untuk memberi dukungan kepada Ketua Halim untuk ikut serta menyaksikan suksesnya acara.

Begitu kami sampai di Palembang pada 27 Februari 2010, kami dijemput dan dijamu oleh ketua Halim serta wakil dari organisasi-organisasi Tionghoa di Sumsel. Setelah makan siang, kami dibawa ke tempat rekreasi di Palmebang, yaitu Pulau Kemarau. Sehubungan besok tgl 28-2-2010 adalah Cap Go Me, hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek, dan dianggap hari yang sangat penting di budaya Tionghoa. Di lapangan ini, biarpun masih siang hari dengan teriknya matahari,pengunjung sudah melimpah. Kami di pandu melihat kelenteng yang ICATI-Pusat dipimpin ketua umum Ibu Rini Lestari serta anggota Johan Iskandar, Hengky Lau dan Lindawati menghadiri pesta ini untuk memberi dukungan kepada ketua Halim untuk ikut serta menyaksikan suksesnya acara bersejarah, pohon cinta yang menjadi saksi banyaknya pasangan yang menuju ke pelaminan setelah berjanji di bawah pohon ini. Ada juga satu tempat sembayang yang secara khidmat dikunjungi umat yang beragama Budha, Islam dan Tao. Memang sejak dulu Laksamana Besar Zheng Ho yang beragama Islam sering berkunjung ke Palembang dan keharmonisan beragama disini sudah tidak diragukan. Kami juga diperlihatkan satu pot tempat hio tembaga di klenteng yang ditutupi tanah.  Tanah itu seolah olah bertumbuh sendiri tanpa ada yang meletakkannya.  Tidak terdapat satupun semut atau lebah.  Hal ini memang satu keajaiban. Di lapangan telah ramai diadakan opera Tionghoa yang berbahasa Tio Ciu dan Hokkian, tidak kalah juga penyanyi yang membawakan lagu mode bersejarah, pohon cinta yang menjadi saksi banyaknya pasangan yang menuju ke pelaminan setelah berjanji di bawah pohon ini. Ada juga satu tempat sembayang yang secara khidmat dikunjungi umat yang beragama Budha, Islam dan Tao. Memang sejak dulu Laksamana Besar Zheng Ho yang beragama Islam sering berkunjung ke Palembang dan keharmonisan beragama di sini sudah tidak diragukan. Kami juga diperlihatkan satu pot tempat hio tembaga di klenteng yang ditutupi tanah.  Tanah itu seolah olah bertumbuh sendiri tanpa ada yang meletakkannya.  Tidak terdapat satupun semut atau lebah.  Hal ini memang satu keajaiban. Di lapangan telah ramai diadakan opera Tionghoa yang berbahasa Tio Ciu dan Hokkian, tidak kalah juga penyanyi yang membawakan lagu modern yang dipopularkan Deng Li Jun. Disini kami seolah kembali ke masa kanak-kanak di mana suasana yang paling kami sukai.

Besoknya, tepat malam Cap Go Me, di Hall OPI Palembang diadakan pesta ini. Hall telah dipenuhi +/- 900 orang dan pesta dimulai dengan meriah. Selain symphony dari Palembang, juga ada penyumbang acara nyanyi dan tari dari Malang, Bandung dan Jakarta.  Pengisi acara 90% adalah nenek dan kakek yang sudah senior umurnya tapi lincah sekali dan happy semangatnya. Dengan paduan suara yang menyihir dan tarian yang lincah gembira, mengantar suasana pesta kepuncaknya.Pemain piano dan violin yang piawai dari Taiwan School Jakarta juga ikut sumbang kebolehannya.

Pesta dimulai jam 6.30 malam sampai selesaijam 10.30. selain mempertontonkan kemahiran di panggung, team kerja yang dipimpin Ketua Halim juga berperan sangat penting sehingga pesta berlangsung dengan sukses besar.

Kurva grafik angka sumbangan menanjak naik seiring dengan berjalan waktu acara dan pada akhirnya terkumpul Rp.418 juta. Menurut Ketua Halim, penyelenggara masih akan sumbang  dan totalkan hingga berkisar +/- Rp. 570 juta. Di antaranya 70% digunakan untuk membantu murid murid yang kurang mampu dan sisa disumbangkan kepada orang kurang mampu yang tadinya sudah banyak dibantu organisasi-organisasi di Sumsel.

Pesta ini memberi impresi yang luar biasa pada kami. Kehangatan dari para anggota ICATI SUMSEL , kekompakan dari para penyelenggara dan hati besar dari para penyumbang acara dari jauh, membuat kami menyadari selain dari Sungai Musi, Palembang masih punya daya tarik yang begitu besar. Segala jerih payah Ketua Halim dikompensasi dengan sukses besar acara malam itu. Kami mendoakan sukses lebih besar di masa akan datang .

Copyright © 2009 Ikatan Citra Alumni Taiwan seIndonesia. powered by Menaravisi